//Historis Kopi, Gelombang Budaya Kopi Dunia Millennial
Historis Kopi, Gelombang Kopi Dunia Millennial

Historis Kopi, Gelombang Budaya Kopi Dunia Millennial

Benih Kopi siapa yang pertama kali membawanya ke Indonesia ? Seberapa penting kopi bagimu ? Kenapa ada pergeseran budaya kopi saat ini? hal apa yang menjadikan Coffee Shop diminati oleh milineal ? banyak yang bilang kopi adalah rutinitas. Padahal secara kesehatan, kopi awalnya digunakan untuk menghilangkan kantuk. Bagaimana pendapatmu, Men ?

Historis Kopi, Gelombang Kopi Dunia Millennial

Filosofi Kopi, Arusnya Kehidupan Zaman

Kopi seperti teman hidup, tapi tidak afdol jika tidak mengetahui arusnya.

Mulanya tanaman kopi pertama kali ditemukan di daratan Afrika, tepatnya di Negara Ethiopia. Saat itu kopi masih belum dikenal dunia, tetapi pada abad 15 biji kopi menjadi komersil ketika pedagang arab pergi ke Yaman. Secara Filosofis, arti kopi mulanya berasal dari bahasa Arab yakni “qahwah (kekuatan)” . berbedanya budaya dan bahasa di Turki, maka qahwah menjadi kahveh. Dan ketika minuman pahit berwarna hitam ini mulai dikenal dan disukai oleh Bangsa Eropa, salah satunya Negara Belanda dengan sebutan Koffie.

Secara historis, budaya minum kopi di Indonesia merupakan warisan kolonial Belanda. Pada saat perang dunia I dan II kopi mulai menjadi komoditas untuk diperdagangkan. Perkembangan tersebut menjadi titik awal dari apa yang dinamakan Gelombang Budaya Kopi. Semakin hari gelombang tersebut semakin besar dan arus perdagangan kopi saat itu bermuara di Amerika dan Eropa. Sehingga Bangsa Eropa Negara Belanda yang pada saat itu sudah menjajah, membawa benih kopi untuk ditanam di Indonesia. Usaha yang dilakukan Belanda ini agar mampu memenuhi permintaan Bangsa Eropa, sehingga melalui sistem kerja tanam paksa saat itu mampu memperluas penanaman kopi secara besar – besaran di Jawa. Menurut Prawoto Indarto dalam bukunya yang berjudul “The Road To Java Coffee”, menjelaskan bahwa usaha Belanda gagal karena tanaman kopi rusak akibat gempa bumi dan banjir. Namun tidak dianggap pusing, karena Belanda terus mendatangkan bibit – bibit baru.

Berbeda dengan Yandhie (2018) dalam bukunya “Kopi : Aroma, Rasa, Cerita” ini menjelaskan bahwa Kopi yang diekspor ke Eropa menjadi popularitas yang banyak diminati dan dikenal dengan sebutan “Java Coffee”. Hal ini lantaran penjualan bibit kopi sangat meledak hingga melebihi ekspor dari Mocha, Yaman dan beberapa Negara Eropa. Sehingga bisa dibilang pada saat itu Belanda memonopoli pasar kopi dunia.

Gelombang Budaya Kopi Dunia

Budaya minum kopi mengalami perubahan yang sangat signifikan. Mengutip artikel Trish Rothgeb (2002) berjudul “Wrecking Ball Coffee Roasters” mendefinisikan ada tiga pergerakan dalam dunia kopi yang dikenal istilah waves.

  1. Gelombang Pertama, Munculnya Kopi Instan
    Era ini mementingkan inovasi kemasan dan kepraktisan penyajian salah satunya Nescafe yang sudah disahkan Oleh PBB sebagai pentingnya komoditas kopi.
  2. Gelombang Kedua, Munculnya Coffee Shop
    Starbuck disebut Hyper second wave company, sebagai leader kopi dunia. Karena mampu mengubah ritual minum kopi secara modern. Semula bisa menikmati dirumah ataupun kantor beralih ke coffee shop. Di Coffee Shop selain menikmati kopinya juga bisa mengobrol dengan teman terdekat. Dan banyaknya varian kopi yang muncul seperti espresso, latte, dan americano.
  3. Gelombang Ketiga, Perjalanan Kopi
    Saat ini sudah memasuki gelombang ketiga, yang mana peminumnya memiliki ketertarikan yang besar terhadap kopi itu sendiri. Orang merasa bahwa secangkir kopi memiliki cultural experience, mulai dari mana asalnya ditanam, proses pengolahan biji hingga penyajiannya. Di era ini pula istilah origin mulai dikenal, yang mengacu pada satu wilayah spesifik dari mana kopi berasal. Hal ini dilakukan agar kopi mudah dikenali secara spesifik karena satu varietas bisa melahirkan varietas dan cita rasa yang berbeda jika ditanam di daerah yang berbeda. Sehingga kopi daerah sudah memiliki label yang tersebar ke seluruh dunia. Seperti halnya Gayo Aceh Sumatra, Kintamani Bali, Java, Papua dan lainnya sebagai daerah yang memiliki jenis kopi dengan cita rasa unik dan khas.

Meminum kopi pun memiliki filosofi tersendiri bagi setiap orang yang berisikan tentang berbagai pengalaman seseorang dalam memaknai kehidupannya. Karena Kopi tidak pernah memilih siapa yang layak menikmatinya karena dihadapan kopi kita semua sama. Nikmatilah tiap seduhan kopi, rasanya menggambarkan suasana pada saat itu.