//Masjid Cheng Ho, Heritage Perpaduan Cina dan Jawa
Masjid Cheng Ho, Heritage Perpaduan Cina dan Jawa

Masjid Cheng Ho, Heritage Perpaduan Cina dan Jawa

Masjid Cheng Ho merupakan warisan budaya tidak bergerak (Immovable Heritage) lantaran berada di tempat terbuka dan sebagai bangunan kuno yang bersejarah (Galla, 2001 Hal. 8). Sebagai warisan budaya, Masjid Muhammad Cheng Ho baru diresmikan pada tanggal 27 Juni 2008 oleh Bupati Pasuruan. Jika melihat arsitekturnya berbeda dengan masjid lainnya pada umumnya, karena masjid ini menggambarkan adanya perpaduan budaya antara Cina dan Jawa

Sejarah Masjid Cheng Ho, Dari Nama sampai bentuk arsitekturnya

Mulanya Cheng Ho adalah nama laksamana yang terkenal asal Tiongkok yang melakukan ekspedisi tahun 1404 – 1443. Dalam misi pelayarannya, Cheng Ho juga menyebarkan agama Islam kepeda penduduk setempat. Ada satu fakta yang menarik, Cheng Ho pernah datang ke Kerajaan Majapahit yang menandakan bahwa sebelum Islam masuk ke daerah Jawa, Agama Islam sudah lebih dulu menjadi kepercayaan masyarakat Tionghoa. Maka tak heran jika beliau sangat dihormati, sehingga Komunitas Muslim Cina mengabadikan namanya pada masjid tersebut. Masjid laksamana cheng ho dianggap sebagai produk atau hasil budaya fisik yang menggambarkan nilai suatu kelompok ataupun Bangsa.
gambar masjid cheng ho yang mencerminkan betapa muslim nusantara sangat akomodatif terhadap budaya luar yakni Cina sehingga menjadi salah satu warisan budaya dunia. Adanya Masjid Cheng Ho ini sebagai adanya para pendatang etnis cina yang beragama Islam. Warisan budaya benda ini menggambarkan adanya akulturasi budaya dan harmonisasi Islamisasi.

Bangunan Masjid Cheng Ho memiliki 2 lantai yang dibangun di atas tanah seluas 6.000 meter persegi, luas bangunan masjid 550 meter persegi. Karakteristik bangunannya, atapnya berbentuk seperti atap pagoda. Pilar – pilar bangunannya berbentuk silinder, besar dan kokoh. Dindingnya berupa sekat berongga dan ornamen ukirannya berwarna emas.

Masyarakat pada umumnya menyebut masjid ini “masjid klenteng”, karena dianggap tempat ibadahnya etnis Tionghoa di Indonesia. Padahal masjid ini digunakan sebagai tempat ibadah yang beragama Islam, dan menjadi salah satu wisata religi yang diakui sebagai Heritage Oleh UNESCO. Ketika melakukan renovasi masjid ini tanpa menghilangkan esensi budaya lokal dan Tinghoa sebagai pelestarian Heritage.

Cheng Ho, Berwisata Sekaligus Beribadah

Selain ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya, masjid ini dijadikan sebagai “Wisata Religi” karena memiliki daya tarik tersendiri. Bisa dibuktikan, di hari – hari besar Islam atau Libur Nasional tempat ini sangat padat oleh banyaknya wisatawan yang berkunjung. Di tempat ini, wisatawan akan mendapatkan dua esensi sekaligus yakni berwisata dan beribadah.

Wisatawan juga bisa memanjakan perutnya karena adanya tempat oleh – oleh khas Pasuruan dan perbelanjaan pada umumnya. Dengan fasilitas tersebut memberikan nuansa yang berbeda dari masjid – masjid lainnya yang hanya digunakan sebagai tempat peribadahan saja.

Adanya Masjid Cheng Ho juga sebagai tempat beristirahat yang sudah melakukan perjalanan jauh sekaligus memanjakan mata dengan melihat ornamen bernuansa cina dan jawa. sedangkan masyarakat lokal masjid ini dianggap sebagai keberkahan karena hidupnya semakin membaik, karena banyak yang berjualan, menjaga kebersihan dan tempat parkir. Selain itu, Masjid ini juga sebagai ikon yang menjadi simbol 2 budaya. Sehingga perlu adanya pemahaman, pengetahuan serta kesadaran pada masyarakat guna menjaga salah satu warisan budaya.

Lokasi Masjid ini berada di Jalan Raya Gempol Malang Depan Terminal Pandaan, Pasuruan.