//Petik Laut Mayangan, Berwisata Bernuansa Budaya Lokal
Wisata Petik Laut Mayangan

Petik Laut Mayangan, Berwisata Bernuansa Budaya Lokal

Pantai Mayangan Probolinggo ini terletak di pesisir Kota Probolinggo, yang mana mayoritas masyarakatnya beragama Islam meskipun ada yang sebagian kecil beragama Kristen. Dengan berbeda keyakinan pada agama, kehidupan masyarakat Mayangan tetap berjalan rukun dan harmonis. Penduduk mayangan yang mayoritasnya sebagai nelayan, tiap tahun masyarakat bergotong royong untuk memeriahkan atau memperingat adat “Petik Laut”.

(Petik Laut Mayangan)

Budaya Petik Laut merupakan ritual masyarakat Mayangan Kota Probolinggo untuk selamatan sebagai nelayan yang ditujukan ke penguasa atau penjaga laut. Seperti yang dikatakan Adrian B. Lapian (2009, hal 57-62), bahwa tradisi semacam petik laut ini mulanya dilakukan oleh suku bajo. Karena orang bajau (bajo) dikenal sebagai pelaut sejati, yang hidupnya dihabiskan di laut. Oleh karena itu suku bajo melakukan suatu ritual sebagai rasa syukur kepada dewa penguasa lautan.

Adapun manfaat tradisi petik laut agar mendapatkan berkah kelancaran dan perlindungan selamat ketika melaut dan mendapatkan hasil laut yang melimpah. Jika tradisi ini tidak dilakukan masyarakat percaya akan hasil tangkapannya yang berkurang dan terkena musibah. Sehingga tiap tahun, tradisi ini terus dilakukan dan diwariskan ke generasi berikutnya sebagai penerus guna mempertahankan nilai – nilai budaya lokal di masa mendatang. Secara fungsi individu dalam tradisi ini memberikan suatu kepuasaan diri secara emosional, menumbuhkan rasa kepercayaan diri yang besar. Tiap individu yang melakukan suatu ritual akan merasa lebih aman dan nyaman dibandingkan tidak melakukan ritual tersebut.

Larung sesaji bumi ini biasanya diselenggarakan pada tanggal 1 Suro (Penanggalan Jawa) atau biasanya digelar pada Bulan November (Akhir taun). Kegiatan ini sudah didukung penuh oleh Pemerintah Kota Probolinggo dan sudah menjadi agenda tahunan. Sehingga Wisata Petik Laut ini biasanya dibuka untuk umum, jadi wisatawan bisa merasakan emosional yang dilakukan oleh nelayan Mayangan tersebut. Biasanya wisatawan mengabadikan momen – momen khusus serta melihat acara petik laut ini. Biasanya ada pagelaran wayang, ruwatan. Saling menghormati merupakan salah satu penghidupan budaya lokal yang akan terus ada.