//Food Is Culture, Bagaimana Sate Taichan Mendunia ?
Food Is Culture, Bagaimana Sate Taichan Bisa Mendunia

Food Is Culture, Bagaimana Sate Taichan Mendunia ?

Makanan memiliki berbagai nilai dikalangan masyarakat konsumer, selain membuat perut kenyang tetapi juga sebagai tanda gaya hidup masyarakat modern untuk memamerkan makanan melalui foto dan video yang dibagikan ke media sosialnya.

Makanan merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Tanpa makanan manusia tidak dapat bertahan hidup. Selain itu makanan juga termasuk salah satu budaya. Dalam buku Food Is Culture karangan Massimo Montari secara gamblang mengatakan bahwa makanan adalah budaya ketika ia diproduksi, karena manusia tidak begitu saja menggunakan apa aja yang ditemukan dari alam, tetapi juga mencari untuk menciptakan makanan sendiri. Meskipun manusia bisa memakan apapun, tetapi pada kenyataannya ia tidak memakan segala hal melainkan memilih makanan sendiri yang ia suka.

Konsumsi tidak lagi sekedar kegiatan pemenuhan kebutuhan dasar dan fungsional manusia. Konsumsi telah menjadi budaya, budaya konsumsi. sistem masyarakat pun telah berubah, dan yang kini adalah masyarakat konsumen yang mana kebijkan dan autan sosial masyarakat sangat dipengaruhi oleh kebijakan pasar.

Food Is Culture, Bagaimana Sate Taichan Bisa Mendunia

Sate Taichan adalah sate yang dibakar tanpa kecap dan bumbu kacang. berbeda dengan sate ayam tradisional yang dibumbui terlebih dahulu sebelum dibakar, namun sate taichan malah minim bumbu, sebelum dibakar diberi garam serta minyak secukupnya. setelah itu, sate dibakar hingga matang dibiarkan polos saja. Kemudian, sate taichan pun dihidangkan dengan pedasnya sambal cabai rawit, apalagi ditambahkan dengan segarnya jeruk limo.

Secara Visual, Sate Taichan memang menarik untuk dimakan, dan bagus untuk difoto sebagai nilai sosial dikalangan masyarakat modern, karena mereka membagikan apa yang sudah ia makan. Tanpa disadari, mereka menyebarkan dan mempromosikan sate taichan untuk dikenal oleh seluruh dunia. pengetahuan yang didapat itu sebagai perilaku untuk mengekspresikan estetika dan gaya hidupnya serta pemenuhan hasrat (desire). Jika berbicara kebutuhan manusia memiliki batas tetapi sebaliknya hasrat tidak terbatas dan terus menerus merasa kurang. karena dalam dimensi kebutuhan sebagai aktualisasi diri.

Hal ini mengarah pada nilai sosial yang mengarah pada tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari – hari untuk menentukan sesuatu yag dikatakan baik atau buruk, pantas atau tidak pantas harus melalui proses menimbang. Proses dipengaruhi kebudayaan oleh masyarakat, yang memiliki perbedaan tata nilai. Seperti halnya, masyarakat yang tinggal diperkotaan lebih menyukai persaingan karena dalam persaingan akan muncul pembaharuan – pembaruan. Sementara pada masyarakat tradisional lebih cenderung menghindari persaingan karena akan mengganggu keharmonisan dan tradisi turun temurun.

Mulanya sate taichan ini dijajakan oleh pedangang kaki lima di daerah Senayan, Jakarta. Kini, hidangan sudah dinikmati seluruh penjuru di Indonesia, karena banyaknya pedagang yang menjamur dimana – mana. Dan harganya dua kali lipat dengan sate ayam tradisional. karena sudah mendunia tentu jika itu hasrat manusia pasti dibeli tanpa memikirkan seberapa uang yang dikeluarkan melainkan kepuasaan tersendiri sudah mencoba dan menikmati sate taichan.