/Politik Kelabu di Desa

Politik Kelabu di Desa

Tayangan FTV SCTV sering menyajikan setting di daerah pedesaan yang asri dan masyarakat yang bersahaja. Hal itu terlihat dari rindangnya pepohonan, sawah-sawah subur dan masih terhampar luas. Masyarakat yang grapyak digambarkan dengan seringnya membantu aktor utama menyelesaikan masalah. Atau, masyarakat yang sedang guyub dan bersosialisasi di pasar tidak keberatan jika ditanya alamat oleh sang aktor.

Gambaran masyarakat desa seperti di atas nyatanya benar tapi tidak selalu begitu dalam hal lainnya. Seorang warga bisa saja tidak jadi dihakimi warga lainnya karena tidak ikut kerja bakti desa karena ada musyawarah yang dipimpin tetua masyarakat setempat. Tapi, dalam hal lebih serius dan krusial musyawarah tak bisa menyelesaikan masalah. Tetua masyarakat tak menempatkan dirinya dengan seluruh perangkat kebijaksanaan yang dimiliki. Malahan seringnya dia menjadi pengeruh permasalahan. Bukan lagi penghakiman yang terjadi tapi, kerusuhan tingkat desa yang terjadi.

Lewat pengalaman penelitian lapangan beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan gambaran nyata tentang dinamika warga desa. Penelitian saya sejatinya bertujuan manfaat yang dirasakan warga desa ketika sumber mata air yang ada di desanya dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat bersama. Tapi dari sumber mata air tersebut jugalah gesekan hingga menimbulkan pertikaian besar di masyarakat.

Pada awal-awal penelitian kurang lebih minggu pertama saya melakukan penelitian, apa yang diceritakan warga dan fakta di lapangan yang saya lihat menunjukan kehidupan bersahaja, guyup dan rukun dari warga. Ketika saya menanyakan dampak dari pemanfaatan Sumber Mata Air, warga menceritakan kehidupan mereka bergantung tinggi pada kekayaan alam tersebut. Dampak yang dirasakan banyak sekali, paling vital adalah ketersediaan air bersih di rumah-rumah warga hingga perekenomian desa terus merangsak naik dengan dijadikannya area wisata di sana.

Salah satu warga malah berapi-api menceritakan pengalaman ketika air dari sumber untuk pertama kali bisa dirasakan di kamar mandi warga yang ternyata baru beberapa tahun belakang. Alasannya secara lanskap sumber mata air di bawah pemukiman warga. Beberapa tahun silam lembaga internasional yang berfokus pada sanitasi warga daerah tertinggal menginisiasi kerjasama dengan warga desa untuk kerja bakti membuat pompa air raksasa dan saluran air yang membuat air dari sumber bisa bergerak naik ke pemukiman. Kata salah satu warga mengingat masa-masa kerja bakti, warga memiliki kesadaran tinggi untuk kerja bakti selama akhir pekan tanpa disuruh dan dibayar. Mereka sukarela mengeluarkan perkakas terbaik dan semangat membara untuk kemajuan bersama.Hingga akhirnya, beberapa tahun melakukan kerja bakti hasil yang ditunggu-tunggu datang, air masuk ke kamar mandi warga.

Dalam penelitian saya , itulah sekelumit cerita bahagia dinamika kehidupan masyarakat desa. Ketika waktu penelitian saya lebih lama, cerita-cerita ‘kelam’ tentang kehidupan masyarakat desa silih berganti saya dapatkan dan memang tidak terlihat secara terang-terangan.

Dari cerita kelam yang saya dapatkan musababnya juga karena pemanfaatan sumber mata air tersebut. Ada kelompok masyarakat yang berkeinginan lebih dari pemanfaatan tersebut untuk kepentingan pribadi. Kesejahteraan untuk bersama hanya berlangsung awal-awal, selanjutnya nafsu untuk mendapatkan lebih hingga mengorbankan yang lainnya, muncul perlahan. Puncaknya terjadi situasi penuh ketegangan antar warga dan sampai pada pertikaian yang tak terelakan.

Hal tersebut bisa dipahami lewat konsep tragedy of the commons (Hardin,1968), bahwa sifat manusia akan selalu berkeinginan untuk memanfaatkan properti publik yang sudah diatur dalam bentuk undang-undang negara untuk kepentingan pribadi lewat cara apapun. Hal itu terjadi ketika manusia tumbuh dalam skala eksponen sedangkan alam sebagai salah satu properti publik stagnan atau tumbuh dalam skala yang jarang.

Dalam kasus penelitian saya sumber mata air yang ada di desa adalah properti publik, tidak seorang pun memiliki hak kepemilikan. Masyarakat desa adalah manusia yang menginginkan profit sebanyak-banyaknya dari properti publik tersebut. Seorang individu bisa bersiteru dengan individu lainnya karena saling menuduh memanfaatkan lebih banyak dari yang lainnya. Bentuk ketegangan antar warga juga terjadi dalam skala kelompok antar kelompok. Setiap yang bersitegang memiliki cara atau ‘politik’nya masing-masing, dan dilakukan dengan cara yang sporadis dan mengerikan pada akhirnya.

Sebut saja Jack, dia adalah informan kunci saya dalam penelitian. Jack adalah pencetus sebuah kelompok masyarakat yang bertujuan melawan elite desa, yang dianggap memanfaatkan kekuasaan untuk meraup untung bagi mereka sendiri dan tidak dinikmati warga. Dalam waktu yang bersamaan, Jack menginginkan pengelolaan Sumber Mata Air dilakukan oleh kelompoknya. Alasannya, Jack dan kelompoknya lah yang tinggal paling dekat dengan mata air dan leluhur mereka dianggap sebagai juru kunci daerah tersebut.

Di lain sisi saya mengobrol dengan salah satu elite desa. Dari pembicaraannya, dia menganggap masyarakat yang protes bersifat kenak-kanakan. Tindakan protes tersebut dianggap sesuatu yang salah. Alasannya, mereka tidak tahu hukum yang berlaku, sehingga hanya seperti tong kosong yang bunyinya nyaring. Pihak desa melakukan pemanfaatan karena itu memang kewajibannya, karena sumber mata air tersebut adalah aset desa, dan harus mereka yang kelola.

Tapi ketika saya bertanya tentang keterbukaan aliran keuangan dari pemanfaatan sumber mata air, seperti yang dikatakan Jack, si elite desa dengan seribu satu cara langsung mengarahkan pembicaraan kesosok ular putih penjaga sumber mata air.

Polemik antara elite dan kelompok masyarakat yang merasa ‘tertindas’ tak terelakan masuk dalam ruang pertikaian. Sudah menjadi rahasia bersama di desa tersebut, pada sore kelabu di balai desa,ketika seharusnya diadakan musyawarah, malah kebablasan hingga ada nyawa yang melayang. Itu terjadi karena masa dari setiap kelompok sudah terbakar api amarah bahkan sebelum sampai di balai desa. Tiba-tiba ada instruksi pada relawan setiap kelompok untuk menyiapkan senjata tajam saat seharusnya musyawarah berlangsung. Hingga akhirnya sore itu jadi kelabu.

Penulis : Linnea Gallib