/Upaya Melestarikan Lingkungan, Rumah Kami

Upaya Melestarikan Lingkungan, Rumah Kami

Di zaman modern dimana teknologi informasi berkembang sangat pesat, desa wisata Ranu Pani Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang masih memegang erat adat istiadat  warisan nenek moyang setempat. Dalam adat istiadat tersebut, salah satu nya merupakan upaya melestarikan lingkungan, selain dari sosialisasi dan penyuluhan dari Pemerintah. “Buanglah sampah pada tempatnya”, slogan yang sering kita jumpai di berbagai tempat di sekitar kita.

Dikalangan masyarakat desa Ranu Pani, pengetahuan mengenai lingkungan masih dikatakan kurang dan sumber daya manusianya pun rendah, hal ini disampaikan Untung, seseorang yang kurus dan memakai kaca mata tebal. Dia merupakan seorang sarjana dan sekaligus petani di desa Ranu Pani. Untung juga mengatakan bahwa masyarakat menjaga lingkungan hanya mewarisi tradisi dari nenek moyang. ”Pengarahan – pengarahan dari Pemerintah itu minim”, tambahnya. Masalah pendidikan juga menjadi salah satu faktor rendahnya sumber daya manusia di desa ini. Untung juga menjelaskan, masyarakat Ranu Pani lebih mementingkan.

nominal atau uang. Kebersamaaannya pun mulai berkurang, hal ini disebabkan karena uang dianggap segalanya oleh masyarakat yang dididik untuk mencari uang atau lebih mengejar uang dari pada pendidikan.

Jika melihat dari sisi adat istiadat, masyarakat memang masih kental akan adat warisan nenek moyang. Tinoyo, seorang petani yang berbadan agak gemuk mengatakan bahwa akan ada acara adat Karo, yang di adakan satu kali dalam setahun dan berlangsung pada tanggal 27 bulan Selo dalam penanggalan jawa (2 bulan setelah hari raya Idul Fitri). ”Ngehormati sing didamel ngombe” (Menghormati alam), ujar Tinoyo. Karo merupakan selametan desa yang bertujuan mengungkapkan rasa terima kasih pada alam semesta yang biasanya dipimpin oleh dukun di desa Ranu Pani. Upaya melestarikan lingkungan seharusnya juga bisa dimulai sejak dini. Firman, siswa SD Ranu Pani yang berbadan gemuk dan pipinya yang kemerah – merahan mengatakan takut dimarahin orang tuanya jika membuang sampah sembarangan. Suatu kegembiraan tersendiri ketika anak seperti Firman sudah membuang sampah pada tempatnya.

Tidak hanya masyarakat lokal yang harus mengupayakan pelestarian lingkungan di desa Ranu Pani ini, wisatawan pun harus berupaya dalam melestarikan lingkungan. Misalnya Riko, mahasiswa asal Surabaya yang gagal ke Semeru karena tidak tahu info akan sistem online yang di berlakukan oleh Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS). Dia bercerita bahwa dirinya selalu membawa turun kembali sampah yang dibawanya, semisal hal kecil seperti putung rokok ketika berkegiatan di alam bebas. Tidak hanya itu, ketika Riko berada di lingkungan rumahnya, dia juga membuang sampah pada tempatnya berdasarkan jenisnya, seperti sampah organik (dapat terurai) dan anorganik (tidak bisa terurai). Sebenarnya, Sahabat Volunteer Semeru atau biasa dikenal dengan SAVER yang bekerja sama dengan TN BTS, telah memberi instruksi kepada semua pendaki untuk membawa semua sampah turun sesuai dengan jumlah logistik makanan yang dibawanya. Hal tersebut juga termasuk upaya melestarikan lingkungan dikalangan orang – orang TN BTS.

            Banyak hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat setempat, namun tak perlu melepas sebuah adat istiadat dari nenek moyang. Apa yang dikatakan Tinoyo dan Untung memang benar. Menghormati alam, rasa berterima kasih pada alam, serta meningkatkan sumber daya manusia, itu semua bisa dilakukan oleh masyarakat lokal dan wisatawan untuk melestarikan lingkungan di desa wisata Ranu Pani.

Salam Lestari!!!