/Warung Singgah Pendaki di Ranu Pani

Warung Singgah Pendaki di Ranu Pani

Aku memasuki tempat dimana aku bisa mengisi perutku yang sejak semalam berbunyi tak karuan. Suasana dingin menjadi hal lumrah sebab berada di atas ketinggian sekitar 2.200 meter diatas permukaan laut. Mengawali pagi dengan sarapan. Hawa dingin membuat perut ingin terus terisi dan mulut terus mengunyah makanan. Akupun memesan sepiring nasi pecel dan tak lupa kopi hangat sebagai teman. Menunggu di antara deretan meja makan dengan suasana hangat khas warung makan menjadi kebiasaan di setiap pagiku mungkin untuk beberapa hari kedepan. Suasana riuh di dalam dapur, sebagian orang menyapkan beberapa pesanan dari para pembeli. Memang pagi tidak terlalu pagi, tapi banyak semangat yang terlihat dari para pendaki yang hendak bersiap menampaki setapak menuju puncak.
Masuk di rumah makan ini kita akan disambut dengan etalase-etalase dengan peralatan mendaki dan beberapa potong baju yang tergantung sebagai buah tangan selesai mendaki. Ornamen khas yang didominasi kayu di setiap sudutnya semakin menambah kesan klasik. Tempat sederhana bak cafe-cafe mentereng di kota-kota ini menjadi tempat terhangat sebagai terminal perut kosong. Tidak terlau mewah apalagi berkesan “wah” warung makan sederhana ini menjadi favorit bagi para pendaki untuk singgah, entah mengisi perut untuk bersiap atau melepas lelah, menyelonjorkan kaki, mendudukkan pantat hingga megisi perut yang kangen akan nasi pecel setelah beberapa hari berada di alam lepas.
Tas-tas carrier bertumpuk ditepian pintu tanda siap untuk mengawali perjalanan. Tampak semangat yang terpancar dari wajah-wajah mereka yang tak sabar melangkahkan kaki menembus rimba demi kepuasan batin yang suntuk. Kembali menatap kedalam rumah makan ini, terasa sangat asri. Di pojok ruangan juga terdapat satu etalase lagi yang menjajankan aneka makanan ringan dan berbagai maacam rokok. Pandanganku tertuju pada salah satu sudut, dimana terletak alat pendingin (kulkas) dengan rapi berjejer minuman ringan. Aneh pikirku, dimana suhu rata-rata sepanjang hari di sini sekitar 15 drajat celcius, cukup dingin untuk mendingingkan segelas kopiku dalam waktu 5 menit.
Penciuman : aroma kuah soto dari dalam dapur yang mengepul merasuk ke dalam ruangan menjadikan teriakan di perut semakin menjadi. Aroma khas tanakan nasi tak mau kalah dari aroma soto. Sedapnya aroma soto tergambar dari bau yang ditimbulkan. Hawa dingin tak terasa di dalam warung itu, mungkin karena efek dari hangatnya dapur yang terletak tidak jauh dari ruanganku berada.
Sisi dapur atau pawon memiliki lebar yang hanya berkisar 5×5 meter, terasa sangat engap bagiku untuk aktivitas memasak yang didalamnya terdapat 3 kompor gas bermata dua dan kuali-kuali besar untuk menanak nasi ditambah lagi mbak-mbak yang lumayan berisi. Tak jauh dari situ aku masih menunggu nasi pecelku dihidangkan di depanku beserta kopi hitamnya. Tak lama ku lihat nampan berisi jejeran piring dan kopi menuju menghampiri meja tempatku berada dengan diantar mbak-mbak lumayan berisi itu tadi.
Ku dengar obrolan mereka yang penuh dengan kesan selepas memanjakan mata dan melampiaskan penasarannya akan Semeru yang gagah berdiri sebagai atap pulau Jawa. Mungkin mereka menyempatkan menginap semalam ri Ranupani untuk memulihkan stamina untuk kembali ke kota hari ini. Riuh, memang bukan hanya sepasang orang, tetapi banyak mulut yang lantang menceritakan akan pengalaman mereka akan kerasnya jalur pendakian semeru. Bahkan ada salah satu orang yang sangat lantang menyuarakan akan pentingnya menjaga lingkugan, supaya esok tetap bisa menikmati indahnya alam pegunungan Semeru pada khususnya danau Ranupani sebagai salah satu keeksotisan dari jalur yang dilalui untuk mengawali pendakian ke gunung Semeru.
Baginya Semeru mengajarkan arti perjuangan dan kesabaran, ada orang yang berkata bahwa dia hampir saja menyerah pada diri sendiri karena tak mampu mengendalikan diri di tengah dinginnya kabut Semeru. Ada seorang yang pada pagi itu akan bersiap untuk melakukan perjalanan ke Ranu Tompe, salah satu lokasi yang berada di dalam kawasan pegunungan Semeru. Dia menceritakan akan ganasnya alam semeru yang masih perawan tersebut. memang, Ranu Tompe tidak dibuka untuk umum berbeda dengan Ranu Kumbolo yang terkenal akan keindahannya. Hal itu dilakukan oleh pihak pengelola Resort PTN Ranupani untuk menjaga kawasan supaya flora dan fauna di sana tetap lestari, saya mengutip dari pembicaraan orang tadi. Dengan pandainya dia merangkai kata menceritakan pengalamanya pada saat pertama kali dia kesana. Menurut orang tua itu dia sudah beberapa kali kesana dengan tujuan salah satunya memasang kamera trap untuk mengamati hewan yang ada di sekitar Ranu Tompe.
Beberapa orang ikut dalam pembicaraan yang dia sampaikan. Bak stand up comedy lelaki yang tadi bercerita dengan mondar-mandir dari sudut kesudut. Beberapa orang di dalam warung pun terpancing masuk ke dalam obrolan yang orang itu sampaikan. Sambil menunggu kru yang lain mempersiapkan kebutuhan logistik dia masih sangat antusias bercerita tentang pengalaman-pengalaman dengan sedikit mempromosikan akun youtube yang berisi konten mengenai rusaknya danau Ranupani yang terancam kering. Dia juga meminta untuk men-subscribe cenel youtubenya tersebut. Entah bermaksud untuk mengkampanyekan akan pentingnya kesadaran untuk menjaga alam atau hanya sekedar meramaikan saja.
Sambil mendengar cerita lelaki paruh baya dengan pengalamannya itu kusempatkan menyeruput kopiku yang perlahan dingin. Kenyang setelah menyantap sepiring pecel memberikan tambahan energi dengan agenda yang sudah kuatur. Kuraba kantong celanaku bagian belakan bermaksud menyiapkan dompet untuk membayar pesananku. Setelah kenyang dengan makanan dan ocehan yang tak karuan aku putuskan beranjak dari tempat duduk dan segera membayar. Segera setelah aku keluar meninggalkan warung, rombongan tim yang akan ke Ranu Tompe bergegas memenuhi dua bak mobil Double Dex milik kantor Taman Nasional.

Penulis : Pegy Dwi Pamungkas.